Kisah Dewasa Selimut Tetangga


Tinggal di kompleks perumahan yg tanganng kadang membawa dampak positif juga. Contohnya Seperti ini, Suatu ketika  Mbaak Venti tetanggaku yg bahenol itu memintaqu mengajari Ms Office komputer kerana pada waktu itu dia sedang ikut kursus untuk pembekalan bekerja (Mbaak Venti sedang melamar di beberapa Perusahaan Swasta di sini) dan sebentar lagi ada ujian komputer tentang Microsoft Office. Dgn senang hati Aqu menyggupinya, akan tetapi
 hanya pada saat dimana aqu tak ada kegiatan perkuliahan. agen poker terpecaya

Hari pertama Mbaak Venti belajar komputer bersamaku, tak ada hal menarik yg perlu diceritakan, tetapi pada hari-hari berikutnya terjadilah cerita-cerita erotis yg di luar dugaan ini. Waktu itu Mbaak Venti sedang mencoba belajar Microsoft Excel, itu tuh yg tampilannya kotak kotak. aqu duduk di kursi tamu yg jaraknya kira-kira 2 – 3 meter dari jarak meja komputer memperhatikan gerak gerik si Mbaak Mbaak seksi ini.
“Mbaak…, kapan ujiannya sih”, tanyaqu.
“ya ampun Besok!, Mas!, makanya sini dong..”
“Ada apa Mbaak memangnya”, jawabku.
“Ini lho, cara ngasih blok ini gimana toch caranya? Daritadi mutar muter aja nieh” agen bandar poker
“Ochh…, itu toch, gini klik mouse kiri tekan terus dan geser sampai bagian yg diinginkan kemudian lepaskan”, begitu kataqu sembari memberikan percontohan.

Selanjutnya Mbaak Venti segera mencoba dan berkali-kali gagal. Aqu membimbing dgn memegang tangann Mbaak Venti, tangann Mbaak Venti memegang mouse sementara tangannku yang satu berada di atas tangannnya. Tanpa terasa perutku menempel di pundak Mbaak Venti. Aqu lihat tak ada perubahan apapun di tampang Mbaak Venti dan aqu pun pura-pura tak tahu. agen bandar Q
Supaya  lebih leluasa aqu ambil kursi kemudian duduk di sebelahnya. Sembari mengajar, kedua tangannku ikut main, tangann kanan mainkan mouse dan tangann kiri memegang bokong Mbaak Venti. Melihat tak ada reaksi dari Mbaak Venti, tentu aqu mulai memberanikan diri bertindak lebih jauh, tangannku mulai meraba pinggangnya. Iapun hanya diam saja. Sembari meremas-remas pinggangnya, aqu mendekatkan hidungku ke tengkuknya, mencoba memberi rangsangan yang dahsyat.

Sampai akhirnya hidungku menempel di belakang daun telinga kanannya. Sementara tangannku mulai merayap naik dari pinggangnya. Jari-jemariku menyelinap ke dalam celah di bawah kemeja pendeknya, memberikan kehangatan pada pinggang dan perutnya yg langsing dan sangat kencang, terus perlahan-lahan merayap ke atas. Mbaak Ventik menarik napas dalam-dalam sampai kedua gumpalan daging di dadanya makin membusung dan memenuhi kemeja ketatnya seketika itu juga, tangann kananku tiba di gundukan halus di daerah kanannya, mengusap, memilin, dan meremas pelan, membuat napas Mbaak Venti kian memburu, kemudian ia memutar tampangnya ke kanan, untuk memudahkan gerakannya.
“Uhh… Mass jangan!”, dessisnya.
“Kenapa Mbaak, mumpung sepi, nggak ada orang yg lihat”.  agen poker
“Jangan ach, saru, pamali…, aqu pulang dulu yach”, kata Mbaak Venti sembari membereskan buku excel yg dibawanya.
“Mbaak, boleh nggak, kalao aqu minta punyanya Mbaak Venti?”.
“Minta apa…”, tanyanya penasaran.
“Aqu ingin merasakan punya Mbaak Venti, kalao boleh Mbaak ke sini hari Rabu, kira-kira jam 10.00 pagi, Kutunggu”. Aqu sengaja memilih jam tersebut, kerana saat-saat seperti itu di lingkungan kami biasana sepi orang, kerana ditinggal sekolah anak-anak, sementara ibu-ibu sibuk di dapur. Tak ada jawaban dari bibirnya yg amboy seksi sekali, maka kuulangi lagi.
“Bagaimana Mbaak?”.
“Ach…, Aqu pulang dulu yach”, hanya itu jawaban yang keluar dari mulutnya. domino QQ

Hari Rabu yg kutunggu datang juga, Hatiku ini rasanya sungguh berdebar-debar menunggu kedatangann Mbaak Venti, ada rasa khawatir kalao yg ditunggu-tunggu ternyata tak menampakan batang hidungnya. Berkali-kali aqu lihat keluar, dia belum juga keluar dari rumahnya. Kulihat lagi…, uch akhirnya dia keluar, hatiku berdebar, jantungku berdetak lebih cepat memacu adrenalin, semakin dekat jarak kami rasanya detak jantung ini makin cepat pula dag dig dug der.
kisah bokep, kisah bokep 2017, kisah bokep terbaru, kisah bokep nyata, kisah bokep hotKisah Bokep Terbaru
“Masuk Mbaak”, teriakku mempersilakan.
“Mass, aaqu geemetaar”.
“aaquuu juga”, sembari kutarik tangann Mbaak Venti ke kamarku. sakong
“Maaaass”.
Tiba-tiba kata-katanya terhenti dan napasnya tertahan, sewaktu kupeluk dan kuciumi lehernya yg jenjang itu. Dan selang beberapa detik kamipun tenggelam dalam ciuman yg sangat bernafsu itu beberapa menit. Dan tangannkupun mulai menggeraygi seluruh badannya. Sembari berdiri kami berdua masih saling melumat dan tangann ku pun mulai menggeraygi dari leher, ke bahu dan pada akhirnya tertitik di dua buah dada milik Mbaak Venti.

Kini jari-jariku telah memainkan perannya di ujung pentil kecil di puncak gundukan kenyal di dada kanannya dan mulai mengusap-usapnya. Ibu jariku mengusap ujung pentil dadanya yg kanan, sementara jari tengah aqu melaqukan hal yg serupa di dadanya yg kiri. Tangann kiriku membuka mata kancing dan retsluiting celana kulotnya, menyusup ke dalam, menemukan rambut-rambut kemaluannya yang kriting.  capsa

Mbaak Venti memejamkan matanya dan menahan napas, ekspresinya menunjukkan rasa nikmat dan birahi tinggi. Secara refleks, tangannnya membuka kancing-kancing kemejanya, sampai dua gundukan yg dari tadi berdesakan dalam ruang sempit itu terbebas. Indah sekali, aqu dapat melihat bahwa ibu jari dan jari tengah tangann kananku kini sedang memijit-mijit dua buah ujung pentil yg tegang, berwarna coklat muda.

Kemejanya tersingkap di sebelah kanan, menunjukkan pundak yg sangat halus dan indah, aqu langsung mengoleskan lidahku di situ berkali-kali. Tangann kiriku terus menggali ke dalam rambut-rambut ikat itu sampai celana Mbaak Venti melorot sedikit demi sedikit dan akhirnya jatuh di bawah kakinya. Jari tengah tangann kiriku pun langsung menyentuh sesuatu yg hangat dan lembab, dan becek kemudian mengusapnya, memilin-jentikkannya.

Membuat badan Mbaak Venti yg cukup jangkung itu bergetar, tak dapat berdiri tegak, kakinya goyah, dadanya naik turun mengikuti napasnya yg terengah, keringat membasahi keningnya, dan sesuatu mulai membasahi jari tangann kiriku di tengah selangkangannya, berdirinya semakin goyah, tangann tangann dan mulutku makin giat bekerja, tungkai indahnya makin gemetar.

“Owwhh…, Massss.., owwhh…, aqu nggak tahan geli”, rintihnya sembari terengah.
Aqu segera menelentangkan badannya di atas ranjang. Kuulangi menghisap ujung pentilnya bergantian. Tangann kananku menggosok-gosok kemaluannya. Ku kulum, kujilat dan ku sedot-sedot semua daerah yg menurut naluriku dapat membangkitkan gairahnya. Bibir, lidah, daun telinga, kuping leher, dada, perut, pusar, paha, kemaluan, betis sampai ke jari dan telapak kakinya. Badan Mbaak Venti bergelinjangan tak karuan dadanya naik-turun kelojotan. Mulutku naik lagi ke atas menyusuri betis dan paha sampai akhirnya berhenti di kemaluannya.’

Dgn kedua tangannku kusibak pelan bulu kemaluannya. Kulihat belahan kemaluannya yg memerah berkilat dan bagian dalamnya ada yg berdenyut-denyut. Kuciumi dgn lembut, bau kemaluannya menciptakan sensasi yg aneh. Dgn hidung kugesek-gesek belahan kemaluan Mbaak Venti sembari menikmati aroma baunya. Erangan dan gelinjangan badannya terlihat seperti pemandangan yg indah menggairahkan.
“aahhk…, eeekhh…, nikmat sekali Mass,”, rintih Mbaak Venti.
Kujulurkan lidahku, kujilat sedikit kemaluannya, ada rasa asin. Lalu dari bawah sampai atas kujulurkan lidahku menjilati belahan kemaluannya. Begitu seterusnya naik turun sembari melihat reaksi Mbaak Venti.
“Akkhh…, akkkhh…, akkkhh…, ngghh”, Mbaak Venti terus merintih nikmat, tangannnya mencari tangann kananku, meremas-remas jariku lalu membawanya ke payudaranya.

Aqu tahu dia ingin yg meremas payudaranya adalah tangannku. Begitu kulaqukan terus, tangann kananku meremas payudaranya, mulutku menjilati dan menghisap-hisap, menyedot kemaluannya, sementara tangann kiriku menyentik-nyentik clitorisnya. Diapun bergelinjang-gelinjang kenikmatan.
“Masss aduuh…, enaak sekalii”, erang Mbaak Venti.
“Nggghh…, nggghh…”, Aqu hanya bisa mendesah, kakinya yg tadinya belum terbuka lebar, tanpa dia sadari dia telah merenggangkan kedua pahanya sembari kakinya ditekuk.
Maka semakin lebar kemaluannya terbuka aqu semakin leluasa memainkan kemaluannya.

Setelah menyedot bibir kemaluan milik Mbaak Venti, lalu aqu mulai menjulurkan lidahku ke dalam kemaluannya yg mulai basah itu. Kujilati clitoris milik Mbaak Venti yg merah itu, terkadang lidahku kujulurkan masuk ke dalam lubang kemaluannya. Diapun mendesah terus menerus,
“aaccch, Auuwwhhh, aaccchh, Auuwwhhh”. Mendengar desahan Mbaak Venti aqu semakin beringas menjilatinya sampai kemaluannya basah.
“Masss…, nggghh..”, Mbaak Venti mendesah sembari tangannnya menggapai mencari-cari kemaluanku.
Aqu bangkit dan kuletakkan kemaluanku di lembah diantara dua gundukan yg kenyal itu, lalu kugesek-gesekkan kemaluanku, sementara Mbaak Venti menggeliat-liat sembari tangannnya ikut mengusap-usap kepala kemaluanku.
“Masss…, nggghh..”, desah Mbaak Venti.

Tangannnya menarik kemaluanku, sementara lidahnya menjilat-jilat bibirnya yg sensual. Kusorongkan kemaluanku ke bibir Mbaak Venti, Dia mulai mengelus-elus, menjilati dari kantung yg berisikan dua biji pelir sampai sampai pada kepala kemaluanku. Setelah puas dia menjilati lalu dia memasukan kemaluanku ke mulutnya, menghisap dan mengocok-ngocok dgn mulutnya seirama dgn desahan Mbaak Venti.

Lama sekali dia mempermaikan kemaluanku sampai aqu secara tak sadar menggeliat-geliat sembari mendesah,
“Ooowwhh, ooowwhh, yaacch, yaacch”. Aqu sudah tak tahan, kemaluanku yg sedang di kulum-kulum di mulut Mbaak Venti, kucabut.
Aqu mengangkat kedua tungkainya, meletakkannya di bahuku, dan pelahan-lahan dgn hati-hati kupegang kemaluanku dan kugesek-gesekkan di belahan bibir kemaluannya beberapa kali, kemudian kutekan ke dalam dan…,
“Bleeess”, kemaluanku memasuki kemaluannya dan segera kusodokkan dalam-dalam dgn kencang.
“Aduuhh…”, Mbaak Venti menjerit pelan.
“Sakit Mbaak..”, tanyaqu dan Mbaak Venti kulihat hanya menggelengkan kepalanya
sedikit dan ketika dia menciumi di sekitar daun telingaqu kudengar dia malah berbisik,
“enaak…, Maas”.
Kuciumi tampangnya dan sesekali kuhisap bibirnya sembari kumulai mengge

rakkan bokongku naik turun pelan-pelan, dan makin lama semakin cepat. Tangann Mbaak Venti mencengkeram dan menekan bokongku. Tampangnya tampak memelas, matanya terkatup rapat, bibir tipisnya terbuka, tetapi giginya terkatup, keringat membasahi sekujur badannya yg kini bergerak terkocok dalam kecepatan tinggi.
Aqu merasakan jepitan kemaluannya sungguh luar biasa. Begitu lembab, lengket, licin, tetapi ketat mencengkeram mengurut-ngurut kejantananku. Ia pun merasakan nikmat yg luar biasa, kemaluannya terjejali dgn benda yg keras dan hangat dgn ukuran yg tepat,berita seks.com menggesek dinding liang kemaluannya, tiap gesekan makin membuatnya melayg-layg.

Aqu menurunkan kaki kanannya dari bahu kiriku, dan memutar badannya ke kiri, sehingga posisi kami jadi menyilang, kemaluanku kini menyentuh bagian yg lebih dalam dari kemaluannya. Mbaak Venti kian histeris, menggeliat-geliat, punggungnya terangkat-angkat dari kasur, matanya terpejam makin rapat, dan mulutnya mendesis, mengerang, dan mengaduh tak menentu. Tangann kanannya kini memegangi tangannku yg sedang mencengkeram pinggulnya.

Aqu membungkukkan badan dan mulutku menangkap ujung pentil kanan Mbaak Venti, mengolesinya dgn lidahku, menghisap-hisapnya, tetapi ujung pentil itu tak dapat menjadi lebih tegang lagi kerana sudah begitu tegang. Badan kami terus saling berhempasan, kemaluanku terasa menyodok-nyodok ujung liang kemaluannya. Sampai tiba-tiba kedua tangannnya mencengkeram sprei, tampangnya meringis, dan badannya meregang sampai punggungnya terangkat tinggi dari ranjang,
“Uggghh…, Masssh…, owwhh”, rintihnya.

Beberapa detik badannya meregang seperti itu, otot-otot kemaluannya terasa kuat sekali menggenggam kemaluanku, lalu tiba-tiba badan langsingnya terkulai lunglai, seperti tak berenergi.
“Mbaak Venti, bisa tahan sebentar saja?”, tanyaqu. Ia mengangguk lemah sembari tetap lunglai seperti orang mau pingsan.
Aqu segera dgn cepat mengocokkan kemaluanku, kutekankan dalam-dalam, dan kutarik dgn cepat, begitu terus. Sampai ekspresi Mbaak Venti menunjukkan rasa ngilu kesakitan, tetapi ia diam saja, membiarkanku mencapai klimaks. Dan akhirnya, aqu merasa sesuatu keluar dari kemaluanku,
“crottt…, crottt…, crottt…, ach”.

Aqu mencabut kemaluanku dari kemaluan Mbaak Venti dan berbaring di sampingnya. Mendekapnya, memeluknya. Ia pun memelukku dgn mesra, seolah kami merupakan suami istri yg saling memiliki.
Sejak kejadian itu kami jarang ketemu apalagi ngobrol, kerana Mbaak Venti sudah lulus kursus, apalagi setelah Mbaak Venti mulai kerja, sementara aqu disibukkan dgn urusan kuliah dan pekerjaan, praktis kami tak sempat ketemu lagi.

Pengalamanku dgn Mbaak Venti membuat aqu sering tergoda jika melihat ibu-ibu seksi. Aqu ingin pengalamanku terulang, tapi tak bisa. Mbaak Venti sudah pindah menempati rumah sendiri bersama suaminya yg kebetulan belum ada jaringan telepon. Aqu ingin nekat ke rumahnya, tetapi tak berani, malu kalao tak ada alasan yg jelas.

Suatu saat tanpa diduga aqu bertemu dgn suami Mbaak Venti, kami ngobrol dan dgn basa-basi kutanyakan apa sudah ada jaringan telepon di rumahnya, ternyata sudah ada dan di rumahnya juga sudah dipasang. Dgn berbekal nomor yg dikasihkan, aqu mencoba menghubungi Mbaak Venti, berdebar juga rasanya jantung ini.
“Hallooo”, terdengar suara yg sudah saya kenal baik itu.
“Ini Mbaak Venti, yaa?”, tanyaqu. “Och…, Mas Feby toch”, sahut Mbaak Venti dgn nadanya yg renyah.
Kami ngobrol lama, aqu gunakan kesempatan ini untuk membangkitkan kenangan masa lalu. Aqu rayu dia, supaya sewaktu-waktu ada kesempatan kami bisa mengulang masa laqu kami. Tetapi sayg Mbaak Venti mengaqu sudah insaf dan dulu merupakan kekhilafan yg jangan sampai diulang. Akhirnya aqu menyerah, tapi sudah kepalang basah, aqu menceritakan terus terang dan minta tolong pada Mbaak Venti.Esexeseks

“Mbaak, kalao toch Mbaak Venti nggak mau lagi, baiklah nggak apa-apa, tapi aqu minta tolong…, tolong bantu aqu Mbaak!” “Apa yg bisa ku bantu Masss!”
“Begini Mbaak.., terus terang sejak kejadian itu, aqu sering melamun dan sering tergoda jika melihat ibu-ibu yg kelihatan seksi, aqu akhirnya hanya bisa menahan dan kalao toch terpaksa kuambil sabun dan main sendiri. Mbaak tolonglah aqu…,beritaseks.com jika Mbaak punya kenalan yg kebetulan kesepian dan menginginkan kenikmatan, kenalkan padaqu yaach, aqu ingin memberikan kenikmatan seperti yg pernah aqu berikan kepada Mbaak Venti”.

“Mas, kok jadi begini…, tapi yach, akan aqu usahakan, tapi aqu nggak berani menjanjikan lho!”
Sampai sekarang Mbaak Venti tak pernah memberi kabar. Aqu juga tahu diri mungkin Mbaak Venti tak setuju apa yg akan aqu perbuat, sehingga dia tak pernah memberi kabar apapun. Akhirnya aqupun sampai sekarang tak pernah menghubungi lagi Mbaak Venti.Tetapi aqu masih tetap mengharap menemukan Mbaak Venti yg lain.



Share this article :

Post a Comment