Anak-anak pengungsi Gunung Agung mulai rindu kampung halaman




Lebih dari dua pekan warga areal Gunung Agung Karangasem menempati tempat pengungsian. Kondisi ini mulai dirasakan kejenuhan bagi anak-anak yang rindu akan kampung halaman. agen bandar poker

Bahkan tidak jarang para orang tua yang tidak tega melihat anaknya terus menangis diam-diam kabur balik ke desa. Di berbagai daerah lain juga banyak laporan kalau sejumlah pengungsi banyak yang balik ke desa dengan alasan ada upacara agama pada Kamis (5/10) besok.

Sesekali nampak wajah murung dari anak-anak pengungsi yang ingin bermain di halaman rumahnya sendiri. Kendati berbagai keinginan dipenuhi di tempat pengungsian namun tetap saja selepas pulang sekolah hanya tenda terpal dan ratusan pengungsi lainnya terbaring yang selalu dilihat setiap hari. agen bandar poker

Rasa ingin pulang ke desa selalu muncul ketika bermain bersama dan saling ejek hingga salah satu menangis.


Seperti yang dialami Putu Winda (10). Ia selalu merengek bisa cepat pulang ke desanya. Winda salah satu anak pengungsi yang menempati posko Sutasoma, Sukawati Gianyar, pun merasakan hal serupa.

"Saya senang ada latihan menari di sini. Tapi saya rindu sanggar tari di kampung, rindu guru tari saya yang dulu. Rindu teman sekolah yang dulu. Saya bosan di sini," aku Winda sambil menitikkan air mata dan memeluk ibunya yang juga ikut menangis. agen bandar Q

Saat itu jelang sore, rasa bosan kembali menyelimuti tatkala akan mandi bergantian. "Kadang sampai tidak mandi kalau sudah kemalaman. Banyak orang bergiliran. Di desa airnya jernih sekali, seger," kenangnya.

Salah seorang latih tari Ni Putu Suastini, mengakui, jika anak-anak mulai dihinggapi rasa jenuh dan gelisah. Beragam kegiatan pun diberikan seperti belajar menari, menggambar dan lainnya. Namun masih saja ada tangisan satu dua orang anak yang rindu dengan rumahnya.

Menurutnya, melalui berbagai kegiatan yang diberikan kepada anak-anak petugas, diharap bisa mengalihkan kejenuhan anak-anak selama di pengungsian. agen poker

"Mungkin saja suasana lingkungan di pengungsian dirasakan berbeda dengan lingkungan rumahnya sendiri," kata dia.

Kondisi ini juga dicermati oleh anggota Komisi Penyelenggara Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Provinsi Bali, I Made Ariasa. Menurutnya, persoalan ini harus mendapat perhatian serius.

Walaupun beberapa anak mengaku senang dengan ragam kegiatannya, namun jika gelisah lantaran rindu rumah dan kampung halaman, baginya ada kecenderungan penurunan kesehatan mental.

"Sejumlah anak-anak yang saya dekati di setiap mengungsian juga didera permasalahan yang sama. Mereka mengaku lebiah enakan di rumah sendiri," tukasnya. domino QQ

Menyikapi itu, Ariasa akan segera berkoordinasi Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Bali agar menggandeng psikiater untuk memberikan pendampingan kepada anak-anak pengungsi. Menurut dia, setidaknya para psikiater dapat memberikan pelajaran tambahan di sekolah atau di tempat pengungsian untuk pendekatan emosional.


http://suka88.com/app/Default0.aspx?lang=id
Share this article :

Post a Comment